Rahmat Hidayat Dahlan, mahasiswa Program Studi Teknik Mekanisasi Pengolahan Politeknik Palu, menyampaikan keresahannya terkait berbagai persoalan akademik dan fasilitas kampus yang dinilai belum optimal sejak 2019 hingga 2025. Hal tersebut disampaikan pada Jumat (6/1/2026).
Keresahan ini muncul dari berbagai jurusan dan mengemuka melalui diskusi internal mahasiswa serta media sosial. Salah satu persoalan utama yang disoroti mahasiswa pada periode 2021–2025 adalah proses belajar mengajar yang dinilai lebih sering dilaksanakan secara daring (online) dibandingkan luring (offline). Selain itu, kondisi fasilitas penunjang perkuliahan juga dianggap belum memadai.
Beberapa mahasiswa mengeluhkan keterbatasan alat praktikum, ruang belajar yang kurang nyaman, serta perawatan fasilitas yang dinilai belum maksimal. Kondisi tersebut dikhawatirkan dapat memengaruhi kualitas pembelajaran, khususnya pada mata kuliah praktik yang menjadi ciri khas pendidikan vokasi.
Selain persoalan pembelajaran, Rahmat Hidayat Dahlan yang berasal dari Kecamatan Nuhon dan juga merupakan mantan Ketua Umum Ikatan Mahasiswa Kecamatan Nuhon (IMKN-P), menyoroti layanan akademik dan administrasi kampus yang dinilai masih perlu pembenahan sejak 2021 hingga 2025. Ia menilai belum adanya transparansi birokrasi terhadap mahasiswa dan lembaga-lembaga kemahasiswaan di Politeknik Palu.
Menurutnya, proses pengurusan dokumen akademik, penyampaian informasi jadwal, hingga koordinasi antara pihak kampus dan mahasiswa belum berjalan secara efektif. Hal tersebut kerap menimbulkan kebingungan serta keterlambatan dalam pelaksanaan kegiatan akademik.
Rahmat juga menduga bahwa pelaksanaan pembelajaran yang lebih sering dilakukan secara daring berkaitan dengan belum dibayarkannya gaji dosen dan pegawai Politeknik Palu. Ia menilai kurangnya respons birokrasi serta tidak adanya kejelasan terkait pembayaran gaji menjadi persoalan serius yang perlu segera ditangani.
“Saya berharap pihak kampus lebih terbuka terhadap aspirasi mahasiswa. Kami tidak menuntut berlebihan, hanya ingin proses belajar mengajar berjalan dengan baik dan sesuai standar pendidikan vokasi, yakni 40 persen teori dan 60 persen praktikum,” ujar Rahmat.
Keresahan lainnya berkaitan dengan transparansi kebijakan kampus. Mahasiswa menilai sejumlah kebijakan penting perlu disosialisasikan secara lebih jelas agar tidak menimbulkan kesalahpahaman di kalangan sivitas akademika.
Sebagai solusi atas berbagai problematika tersebut, mahasiswa berharap pihak Politeknik Palu dapat membuka ruang dialog yang konstruktif serta menerapkan transparansi anggaran secara terbuka dan jelas kepada mahasiswa.
Rahmat menilai komunikasi yang baik antara mahasiswa dan pihak kampus menjadi kunci utama dalam menyelesaikan berbagai persoalan yang ada.




