Ikatan Mahasiswa (IMA) Sulawesi Tengah- Makassar dan Komite Literasi Kerakyatan Morowali (KLK-M) mengadakan Nobar dan Diskusi Film Dokumenter Kutukan Nikel yang diproduksi oleh Watchdoc. Kegiatan tersebut diadakan di Naf Space, Minggu (28/07).
Salah satu pembicara, Ketua Umum IMA Sulteng-Makassar, Henkar Dirgantara mengatakan, transisi energi yang dilalukan pemerintah dari energi berbahan bakar fosil ke listrik itu adalah sebuah pembodohan. Menurutnya, pertambangan nikel yang merupakan penyuplai baterai kendaraan listrik hanya menjadi penyumbang karbon yang besar.
“Kutukan nikel ini benar-benar ada,” tuturnya.
Adapun Juru Kampanye KLK-M, Auliarahman menyampaikan, film yang ditampilkan memperlihatkan potret buruk dari adanya pertambangan nikel ke masyarakat wilayah tambang.
Lebih lanjut, ia menjelaskan jika angka kemiskinan terus melonjak di sekitar wilayah yang ditempati oleh tambang. Sehingga pemerintah yang menggemborkan bahwa tambang sangat baik bagi masyarakat ternyata tidak benar.
“Terlihat kalau angka kemiskinan mencapai 12,20 persen,” jelasnya.
Debt for Climate Indonesia, Daeng Yudi menyebut, tanah yang ditempati oleh tambang bukanlah tanah kosong, tetapi milik masyarakat yang telah ada dan dijaga oleh leluhur kita.
“Jangan sampai daerah seperti Morowali nantinya dikenang dengan tambang, bukan dengan adat istiadatnya,” ungkapnya.
Diambil dari data Kementrian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), setiap tahunnya ada 3,95 juta hektar hutan terkena deforestasi.
“Ini setara 60 kali lipat dari luasan Jakarta,” ucap Yudi.
Diakhir Yudi mengatakan, nikel bukanlah sumber daya yang tepat untuk dihilirisasi, tetapi hasil pertanian.
“Itu bisa meningkatkan kesejahteraan masyarakat lokal,” tutupnya.
Penulis: Madry





