Rezky Satria Tama selaku Koordinator Dewan Perwakilan Organisasi (IMA Sulteng–Makassar), menegaskan pentingnya memperhatikan perubahan iklim Indonesia, khususnya di daerah Sulawesi Tengah.
Sulawesi Tengah merupakan salah satu provinsi di Indonesia yang sangat rentan terhadap perubahan iklim. Variasi kondisi iklim di Sulawesi Tengah telah meningkatkan risiko dan dampak bencana yang dipicu oleh perubahan iklim.
Di sisi lain, Sulawesi Tengah merupakan daerah dengan kawasan industri terbesar di Indonesia. Terdapat dua kawasan industri yang berfokus pada hilirisasi nikel dan menjadi proyek strategis nasional, yaitu Indonesia Morowali Industrial Park (IMIP) dan Indonesia Hua Bao Industrial Park (IHIP).
Proses produksi nikel yang menghasilkan emisi GRK tinggi, serta rentannya sektor perkebunan terhadap dampak perubahan iklim, mengharuskan Sulawesi Tengah meningkatkan aksi iklimnya.
Provinsi Sulawesi Tengah memiliki indeks risiko sedang dengan nilai indeks 140,56. Sementara itu, Kabupaten Morowali dan Morowali Utara merupakan kabupaten dengan indeks risiko tinggi, masing-masing sebesar 173,25 dan 174,82 (skor IRBI), yang mengakibatkan dua wilayah ini memiliki kerentanan tinggi terhadap bencana alam, yang saat ini juga diperparah oleh perubahan iklim.
Lebih jauh, Rezky mengatakan, “Kemudian mari kita lihat Peraturan Presiden Nomor 98 Tahun 2021 terkait implementasi NDC Indonesia. Kita sudah mesti berfokus bersikap solutif untuk menyelaraskan aksi iklim secara bersama-sama demi mencapai target iklim Indonesia, tentunya dengan melibatkan aktor pemerintah dan nonpemerintah di daerah masing-masing serta seluruh elemen masyarakat Sulawesi Tengah dengan memaksimalkan seluruh agenda aksi iklim. Yang saya harapkan terutama adalah daerah saya sendiri (Morowali Utara) yang merupakan daerah dengan indeks risiko bencana tertinggi.”
Perubahan cuaca akibat perubahan iklim merupakan salah satu penyebab meningkatnya kerentanan Provinsi Sulawesi Tengah. Peningkatan frekuensi cuaca ekstrem berdampak pada sektor-sektor penghidupan masyarakat, meliputi perkebunan, pertanian, dan perikanan.
Contoh dampak langsung perubahan iklim dapat dilihat pada masyarakat yang memiliki perkebunan karet di Kecamatan Lembo Raya (Morowali Utara). Perubahan cuaca ekstrem berupa panas dan hujan yang tidak menentu mengganggu pertumbuhan tanaman karet dan produktivitasnya sehingga berpengaruh terhadap pendapatan masyarakat setempat.
“Kita jangan lagi berleha-leha terhadap situasi daerah hari ini. Mari menjaga dan menikmati ekosistem hari ini, lalu beradaptasi dengan baik dan bijak agar anak cucu kita kelak dapat merasakan nikmat yang sama dengan kita,” ujar Rezky.





