Mantan Ketua paguyuban kecamatan Nuhon Kabupaten Banggai, Rafik Binaba, mengaku heran dengan arah kebijakan Pemerintah Kabupaten Banggai. Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) meningkat dari Rp2,3 triliun menjadi Rp3,1 triliun, tetapi asrama mahasiswa Banggai justru tidak menjadi perhatian.
Fasilitas itu telah bertahun-tahun dibiarkan rusak, bahkan sejak pemekaran Banggai Bersaudara, kondisinya tetap sama, tidak terurus.
Lebih ironis lagi, ketika mahasiswa membutuhkan fasilitas yang layak, pemerintah malah memilih membangun Mess Pemda Banggai di Palu dengan luas 1.410 meter dan anggaran mencapai Rp17 miliar.
Menurut Rafik, mahasiswa Banggai di Palu tidak meminta fasilitas mewah. Mereka hanya membutuhkan tempat tinggal dan ruang berkumpul yang layak untuk mendukung proses belajar. Namun kenyataan di lapangan justru menunjukkan bahwa bupati lebih memilih membangun gedung untuk kepentingan pejabat daripada memperhatikan kebutuhan mahasiswa yang merupakan putra-putri daerah sendiri.
Ia menilai, seolah-olah Bupati Banggai menutup mata terhadap kondisi mahasiswa Banggai di Palu. Padahal dari merekalah masa depan daerah berasal. “Apa gunanya APBD triliunan jika mahasiswa yang menjadi harapan Banggai ke depan dibiarkan tinggal di fasilitas yang tidak layak?” ujarnya pada Senin, 1 Desember 2025.
Rafik menegaskan bahwa pembangunan yang benar bukan sekadar membangun gedung megah, tetapi berpihak pada generasi muda. Dan hingga hari ini, hal itu belum terlihat dari kepemimpinan Bupati Banggai.





